Menjelang ajalnya, lelaki tua itu merasa gundah dan gelisah. Air matanya mengalir membayangkan hisab yang akan diterimanya kelak. Tak henti-hentinya ia berzikir dengan suara bergetar diliputi rasa takut dan harap bahwa ia telah menjalankan amanah kehidupan ini dengan baik.
Ada satu yang masih mengganjalnya yang membuatnya begitu gundah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Lelaki tua yg sepanjang hidupnya selalu berjuang membela kebenaran ini kemudian mengumpulkan anak-anaknya. Lalu terjadilah dialog yang Allah abadikan di dalam surah al Baqarah ayat 133:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
Lelaki tua itu adalah Nabi Yaqub as. Kegundahan beliau bukan karena masa depan materi anak-anaknya, tapi masa depan iman dan tauhid anak-anaknya. Subhanallah....inilah kegundahan seorang ayah yang paham betul apa makna warisan sesungguhnya. Bukan harta atau materi yang perlu dikuatirkan sebagai warisan untuk masa depan anak-anaknya, tapi iman dan tauhid.
Kegundahan Nabi Yaqub as adalah kegundahan setiap ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kegundahan yang membuat seorang ayah berdoa siang dan malam dan menangis di sepertiga malam memikirkan iman anak-anaknya. Gelisah...apakah ia sudah menjadi ayah yang benar. Apakah upayanya sudah maksimal untuk mendidik anak-anaknya. Ia takut anak-anaknya akan menyeretnya ke neraka, karena belum maksimal mendidik anak-anaknya.
Kegundahan seorang ayah yang hanya bisa dijawab dengan iman dan tauhid dari anak-anaknya. Kegundahan yang hanya bisa dijawab dengan perbuatan sholih anak-anaknya, baik ketika ia masih hidup maupun sesudah meninggal.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, prestasi seabreg anaknya belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kebaikan dan kecintaan anak-anak kepadanya di masa tua belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan warisan harta benda yang membuatnya kuatir menelantarkan anak-anaknya sepeninggalnya, tapi warisan iman dan tauhid.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan balas jasa materi yang ia harapkan dari anak-anaknya. Tapi doa dari anak yang sholih. Baik ketika ia baru meninggal, maupun sesudah lama ia meninggal. Ia yakin doa anak-anaknya akan mengurangi siksa kuburnya.
Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidurnya menjadi tidak nyenyak karena di kepalanya terus terngiang-ngiang ayat Allah berikut:
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kebahagiaan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (Qs. 4 : 9).
Wahai anak-anakku....jika engkau mencintai ayahmu buatlah ia tenang dan bangga dengan iman dan tauhidmu. Bukan oleh prestasi semu, yang hanya menipumu dan menipunya. Bukan oleh prestasi semu yang tidak berguna di hari keabadian, bagimu dan baginya.
By. Satria hadi lubis
~ I share what I want to share. Whatever it is. Coz sometimes I like to write. ^^, ~
Rabu, 07 Oktober 2015
Kegundahan Seorang Ayah
Selasa, 29 September 2015
Kita bisa apa?
Kita peluk rupiah dengan erat,
Seakan-akan uang begitu membahagiakan,
Jika Allah menghilangkan semuanya,
Kita bisa apa?
Kita begitu menyayangi kedua orangtua kita,
Merasa tak ingin jauh dan kehilangannya,
Jika Allah memanggil salah satu atau keduanya saat kita jauh darinya,
Kita bisa apa?
Kita begitu mencintai pasangan kita,
Seakan dia adalah segala-galanya,
Milik kita seutuhnya,
Jika Allah memisahkan di akhirat kelak,
Kita bisa apa?
Kita begitu bangga dengan usaha dan pekerjaan kita,
Seakan hidup bergantung pada mulus dan ringannya pekerjaan,
Jika Allah menghendaki untuk lepas segalanya,
Kita bisa apa?
Kita berupaya keras untuk mengejar target dan mimpi besar kita,
Untuk kelancaran hidup di dunia,
Jika Allah tidak mewujudkan semuanya,
Kita bisa apa?
Lalu,
Bagaimana harusnya kita?
Apa yang melekat pada diri kita,
Dekat dengan raga,
Menjadikan hidup menjadi berwarna,
Adalah ujian.
Hasilnya akan ada,
Di batas antara nyawa dan raga kan berpisah.
Gunakan segala titipan dengan indah,
Yakni niat karena Allah Ta'ala,
Dan ibadah untuk meraih surga.
.
.
Kontribusi oleh
#duniajilbab
Jumat, 14 Agustus 2015
Mengapa Doa Ibu Mampu Menembus Langit?
BUKANLAH tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu. [ra/islampos/inspirasimotivasi]
Selasa, 11 Agustus 2015
Menulis pun akan dicatat
Dahulu org ingin menulis tuh susah. Bahkan dahulu anak muda banyak menulis ditembok2. Mereka menyurahkan isi hatinya ditembok2. Tapi sekarang semua org dapat menulis melalui hpnya atau tabletnya. dia dapat menulis sekehendak hatinya.
Tapi tatkala kita hendak menulis, ketahuilah bahwa tulisan kita itu akan ditimbang kelak di hari kiamat. Kita akan mendapatkan apa yg kita tulis itu , di catatan kita, di rapot kita, dibuku kita, di padang mahsyar nanti.
.
Maka berusahalah untuk menulis yg bermanfaat. Yg engkau akan berbahagia tatkala melihat tulisan itu. Apabila kita masuk ke jejaring sosial , dan kita mendapatkan tulisan yg baik. Jadilah engkau org yg memindahkan kebaikan itu kpd orglain. Jgn biarkan kebaikan itu berhenti pada jejaring sosialmu, berusahalah untuk mengirimkan ke teman2mu karena itu termasuk dakwah.
Tapi, jangan mudah menyebarkan broadcast. kadangkala kita dpt kiriman berita dr temen. Kita tdk tahu kebenaran beritanya. Jangan langsung menyebarkan kpd orglain. Kenapa? Karena bisa jd kita termasuk sebagai org yg menyebar kebohongan.
Kemudian berhadapan dgn jejaring sosial. Manfaatkanlah untuk menebarkan ilmu. Tunjukkan akhlakmu sebagai seorang muslim. Tunjukkan dirimu, identitasmu sebagai seorang muslim. Yg seorang muslim itu diperintahkan oleh Rasullullah untuk beretikalah dgn manusia dgn akhlak yg
mulia.
Tatkala ada org yg mencelamu pada jejaring sosial, atau menjelekkanmu maka bersabarlah kau akan mendapatkan pahala disisi Allah subhanahu wa ta'ala
.
nasihat : Ustadz Syafiq Basalamah
.
Dari @putmeilani
Rabu, 29 Juli 2015
Nasihat Ukhuwah
Ungkapan Kyai Sepuh NU yg sgt bijak utk mengawali langkah dan tentukan pilihan pada muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang: #NASIHAT
Di tengah perpecahan umat Islam dewasa ini, nasihat guru Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur: Kiai Ahmad Dairobi tiba-tiba menyentak umat Islam Indonesia.
Dalam pekan ini, ‘Nasihat Ukhuwah’ Kiai Ahmad Dairobi populer secara viral di media sosial. Berikut nasihatnya:
“Diam-diam ternyata saya menyukai semangat FPI dalam memberantas kemunkaran. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam aksi mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang takut dan tak peduli dengan kemunkaran yang merajalela.
Diam-diam ternyata saya menyukai semangat dan ketulusan Jamaah Tabligh dalam meramaikan shalat berjemaah di masjid. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam tindakan sebagian mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang tidak melakukan apa- apa saat tetanggaku banyak yang tidak shalat.
Diam-diam ternyata saya menyukai semangat Hizbut Tahrir dalam membangun khilafah. Saya tahu, ada yang salah dalam sebagian konsep khilafah mereka. Namun, kesalahakanku yang tak mau berbuat apa-apa untuk penegakan syariat Islam, jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
Diam-diam ternyata saya menyukai cara berpolitik orang-orang PKS. Saya tahu, mereka banyak dihuni oleh tokoh-tokoh di luar Nahdlatul Ulama; dan yang namanya partai politik pasti cukup banyak kesalahan oknum mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku memilih partai yang cenderung sekuler dan anti penerapan syariat Islam.
Bahkan, diam-diam ternyata saya juga suka dengan keberanian Al-Qaidah dalam melawan kezaliman politik Amerika dan Israel. Aku tahu, mereka melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahanku yang tidak peduli dengan nasib umat Islam jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.
Dan, dengan terang-terangan saya menyatakan sangat mengagumi Nahdlatul Ulama.
Yakni, NU yang sesuai dengan pandangan Hadratussyekh Kyai Hasyim Asy’ari.
BUKAN NU yang menjadi kendaraan politik.
BUKAN NU yang dipenuhi kepentingan pragmatis.
BUKAN NU yang menjadi pembela Syiah dan Ahmadiyah.
BUKAN NU yang melindungi liberalisme.
Dan, BUKAN NU yang menjadikan Rahmatan Lil Alamin sebagai justifikasi untuk ketidakpeduliannya terhadap perjuangan penegakan syariat Islam.
“Niat saya, agar antar gerakan Islam saling menjaga ukhuwah. Jangan sampai ashobiyyah dan fanatik buta pada organisasi masing-masing menutup pintu kebaikan kelompok lain.”